RSS

ARTIKEL

Dengan Senyum Tunai Ukhuwah

Dengan Senyum Tunai Ukhuwah

Pagi itu Rasulullah menyambutnya dgn sebuah kerutan di dahi. Baju satu-satunya yg ia punyai sudah sangat usang-jika tidak mau dikatakan tidak layak pakai. Pakaian yang selama ini setia setiap hari menemani dan menutupi auratnya memang perlu segera istirahat. Segera perlu diganti. Yg jadi persoalan, hari itu Rasul hanya mempunyai uang sebanyak delapan dirham saja. Kalau hanya untuk sekedar dibelikan sebuah kain penutup badan, uang sejumlah itu mungkin cukup. Tapi masalahnya, bagaimana nanti dgn kebutuhan makan minum keluarganya hari itu ? Akhirnya dengan masih pelbagai pikiran mengendap di kepalanya, pergilah beliau ke pasar. Selalu seperti biasanya, Rasul masih tetap menyebar senyumterhadap semua orang yg dijumpainya. Sebuah senyum itu cukup memupus kekhawatiran orang, bahwa Rasul pagi itu tidak mempunyai masalah yg berarti.

Belum sampai ke pasar, langkah Rasulullah terhenti ketikadisebuah sudut, ia menemukan seseorg perempuan dgn isak tangis lirihnya. Bergegas ia menghampirinya, “Ada apa?”

Perempuan itu menghentikan tangisnyasejenak. Ia mendongak, dan alangkah cukup leganya ia, ketika didapatinya adalah wajah Rasulullah. “Saya kehilangan uang, ya Rasulullah…”

“Berapa?”

Perempuan itu menyebut sejumlah angka. Tanpa pikir panjang, Rasulullah segera memberikan dua-dari delapan-dirham yg dimilikinya. Setelah itu, ia meninggalkan perempuan yg keadaanya jauh lebih baik sebelum ditegurnya tadi. Dalam pikiran Rasulullah masih berputar dgn jumlah uangnya yg makin berkurang. Tapi sekali-kali pengurangan itu sama sekali tidak memberatkan hatinya. Org2 yg menegur beliau dg sebuah salam masih ia jawab dg mesra dan penuh cinta.

Sampai di pasar, Rasulullah bergegas mencari kios2 yg menjual apa yg sangat dibutuhkannya. Akhirnya ia menepi pd sebuah toko baju yg dihargai satu pasangnya empat dirham. Tidak bagus memang. Cuma jauh lebih layak dg yg dipakainya saat itu. Setelah tawar-menawar, akhirnya jadilah Rasulullah membungkus baju itu.

Di perjalanan pulang, Rasulullah mendapati seorang tua yg nyaris telanjang. Ia tertegun, “Kenapa kamu?”

“Aku tidak mempunyai baju utk kupakai, bahkan yg sdh usang sekalipun.Sudilah engkau membantuku….

Rasulullah termenung lagi. Bergantian ia menatap baju yg baru dibelinya dg org tua dihadapannya. Keadaan org tua itu memang pantas dikasihani. Shg Rasulullah berkata, “Ini, baru saja aku beli. Pakailah”

“Ini untukku ya Rasulullah?”

Rasul mengangguk. Satu senyumnya menghias wajahnya. Tak terkira betapa gembiranya org itu. Ia berterimakasih. Rasul sendiri bergegas ke pasar kembali. Dgn dua dirham sisanya ia beli baju.Tentu saja pakaian ini lebih kasar dan jelek kualitasnya.
Namun dg gembira, beliau pulang membawa baju barunya. Disudut dimana ia tadi berjumpa dg perempuan yg diberinya 2 dirham, langkahnya kembali terhenti. Wanita itu masih disana. Wajahnya melukiskan resah. Sengatan matahari makin menambahkan kebingungan yg telah dirasanya.

Wanita itu berujar,”Saya takut pulang, Rasulullah, dan saya khawatir majikan saya akan memarahi saya.”

“Kalau begitu aku antar:. “Rasulullah menyatakan kesediaannya. Padahal hari akan segera beranjak malam. Dan, jika begitu kemungkinan besar ia akan terjebak gelap di perjalanan pulang nanti. Sebaliknya wanita itu sangat senang dan lega. Dia yakin
majikannya akan memaafkan, karena kepulangannya diantarkan oleh manusia paling mulia. Bahkan kemudian ia akan dianugerahi terimakasih karena pulang-walau telat-dg kedatangan nabi dan rasul mereka.

Sampai di perkampungan Anshar, mereka berhenti. Sekelompok ibu2 memandang mereka dg tatapan yg sulit diartikan. “Assalamu’alaikum warahmatullah,” Rasulullah menyapa keras.

Tak ada jawaban. Tatapan para ibu itu makin keras. Sebaliknya, wanita di belakang Rasulullah masih khawatir. Ia berpikir bahwa usahanya membawa Rasulullah tidak begitu manjur.

Rasulullah memberi salam lagi. Masih tak ada jawaban. Muka2 itu cukup tajam memandangi Rasulullah. Utk ketiga kalinya beliau mengucapkan salam, Assalamu’alaikum warahmatullah…” Barulah kali ini ibu2 itu menjawab serempak, dg keras dan lantang. Rasulullah mengernyitkan dahi, “Apa yg menyebabkan kedua salam pertamaku tdk kalian jawab?”

Mereka mengatakan, “Kami sebenarnya sdh mendengarnya ya, Rasul. Kami sengaja, kami ingin mendptkan salam lebih banyak. Jika kami menjawabnya sejak awal, tentulah kami tdk mendptkan yg kedua dan ketiga.”

“Ini,” Rasulullah berkata sambil menunjuk wanita yg diantarnya, ” Pembantu kalian ini tdk berani pulang sendirian. Sekiranya dia harus menerima hukuman, akulah yg akan menerimanya…”

Ucapan ini sangat mengejutkan mereka. Kasih sayang Rasul begitu murni. beliau menempuh perjalanan begitu panjang dan jauh hanya utk mengantarkan seorang budak yg takut dimarahi majikannya. Lagipula hanya krn terlambat pulang. Dgn rasa haru mereka berkata, ” Kami memaafkannya, ya Rasulullah. Kami dg ini pula
membebaskannya”

Wanita yg diantar Rasulullah tak terhingga gembiranya. Ia bersyukur atas karunia yg telah diberikan Allah.

Dalam perjalanan pulang Rasulullah bergumam pelan, “Belum pernah kutemui berkah angka delapan spt hari ini. Delapan dirham yg mampu mengamankan seseorg dari ketakutan, dua org yg membutuhkan, serta memerdekan seorg budak.”

Sementara, debu dan angin menyentuh lembut tubuhnya. Angin berhembus dingin

 

4 responses to “ARTIKEL

  1. 2 207

    2 Juli 2009 at 19:15

    subhanallah…

    setiap yang membaca artikel ini, harus bisa mencontoh prilaku Rasul yang seperti itu, beliau rela berkorban demi orang lain…..

    Rasul bisa!
    Kita pun harus bisa dooooonk !!!

     
  2. fkdkunsika

    22 Juli 2009 at 19:34

    Afwan jiddan ya ukhti…komennya baru dimuat….(pasti nungguin)
    afwan deh…baru sempet update.Ok jazakillah atas komennya..
    kita nantikan komen-komen selanjutnya….
    Nb:untuk pendatang baru di Blog ini, komen ga bisa otomatis langsung muncul (harus regristrasi dulu), tapi untuk selanjutnya akan otomatis langsung muncul….Keep Spirit always

     
  3. Ofah

    21 Agustus 2009 at 14:05

    Subhanalloh, Alhamdulillah, Allohu Akbar………..
    Alloh telah memberikan kita suri tauladan yang begitu sempurna………..
    tidak memikirkan diri sendiri, beliau memikirkan umatnya sampai akhir hayatnya.
    betapa tidak tau dirinya kita jika tidak mau mencontoh dan meneruskan dakwah beliau.

    singsingkan lengan bajumu para pejuang, jalan dakwah masih panjang yang banyak memerlukan banyak pengorbanan.
    urusan dakwah jangan sampai terkalahkan oleh urusan pribadi.

    senyum,salam,sapa,sopan,santun
    SATUKAN HATI, JALIN UKHUWAH, KUATKAN AQIDAH. ALLOHU AKBAR!!!!!!!!
    SEMANGAT!!!!!!!!!

     
  4. fkdkunsika

    2 Maret 2012 at 17:09

    jalan yg kita lalui berpdoman dng yg benar, proses yg benar dan hasilnyapun benar. tak hany a benar tapi dijamin…menberikan manfaat yg luar biasa bagi kita dng sunnah-sunnah nya pembawa ke jalan yg terang benderang.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: